"Ave Maryam", Penonton Diajak Merasai Pengalaman Sinematik Lewat Karya Artistik
"Bila surga belumlah pasti buat saya, buat apa saya mengurus nerakamu!"
Kalimat yang dilemparkan Suster Monik (Tutie Kirana) pada Suster Maryam (Maudy Koesnaedi) menusuk. Menurutku kalimat ini salah satunya diskusi paling baik dalam film "Ave Maryam", seperti meringkas apa opini beberapa orang spesifik pada apakah yang dilaksanakan Suster Maryam selama film.
Film "Ave Maryam" yang dikeluarkan tahun 2018 dapat disebut salah satunya film yang berani tampilkan suatu hal yang peka di Indonesia. Dia menyuguhkan cerita cinta yang terlarang, konon diambil dari satu cerita riil.
Nyanyian gabungan suara yang serasi buka film disertai adegan Suster Maryam serta partnernya yang memandikan wanita yang berumur lanjut. Setiap harinya Suster Maryam direpotkan dengan beberapa pekerjaan di asrama serta di gereja. Dia membereskan tempat tidur, mempersiapkan makanan untuk pastor, menyetrika, menjaga beberapa suster lanjut usia, serta ikuti pekerjaan peribadatan.
Kehidupannya yang repot serta monoton dilaluinya dengan ikhlas sampai satu saat gereja mereka kehadiran seorang pastor yang masih tetap muda, temani Romo Martin (Joko Anwar). Dia ialah Romo Yosef (Chicco Jerikho). Pastor muda ini jadi dirigen di orkestra kecil yang diperintahnya.
Secara cepat, Romo Yosef mengundang perhatian beberapa suster. Dia ramah serta gampang menarik simpati beberapa suster yang sudah tidak muda. Dia perhatian ke Suster Monik, ibu angkatnya, yang sedang sakit.
Adegan di gereja (gambar: Asianfilmfestival.barcelona) Dari tatap muka seringkali yang tidak menyengaja, Romo Yosef serta Suster Maryam mulai dekat. Kedua-duanya mulai seringkali berganti surat. Sampai satu saat Suster Maryam merasai dilema akan perasaan cinta yang mulai berkembang itu.
Peranan yang Tidak sama Buat Maudy Koesnaedi
Peranan untuk suster ini benar-benar melawan buat Maudy Koesnaedi. Kecuali dia berperanan untuk suster yang lain kepercayaan dengannya di kehidupan riil, dia dituntut untuk beradegan romantis dengan Chicco Jerikho.
Di Netflix, adegan romantis itu disensor. Meskipun begitu pemirsa sudah memahami jika jalinan Maryam serta Yosef yang cukup intensif melalui berganti surat, berjumpa serta mengobrol cuma berdua itu telah termasuk juga hal yang kurang wajar di antara seorang suster serta romo.
Mengenai jalinan cinta terlarang ini saya jadi ingat satu film usang berjudul "The Scarlet Letter" yang menceritakan jalinan cinta terlarang seorang pastor. Untungnya cerita "Ave Maryam" ini tidak setragis seperti pada cerita "The Scarlet Letter" yang disebut di inspirasi dari cerita riil.
Dari sisi narasi, menurutku "Ave Maryam" fondasi serta eksekusi ceritanya masih tidak cukup mantap. Background Maryam serta Yosef kurang tereksplorasi, begitupun dengan ide serta nilai-nilai yang mereka pegang, hingga fakta mereka jadi dekat dan jatuh hati berasa kurang kuat.
Yang bertambah mencolok di sini yaitu pekerjaan setiap hari Maryam bersama-sama beberapa suster. Ini menarik sebab Maudy serta pemeran suster yang lain terlihat luwes membawakannya.
Dari sisi akting sendiri Maudy terlihat ke luar dari zone nyamannya. Sejauh ini dia diketahui untuk figur Zaenab dalam film serial "Sang Doel Anak Sekolahan" yang terlihat loyo serta pasrah. Di "Ave Maryam" ini kemampuan aktingnya tereksploitasi. Kegundahannya, dilemanya, dan rasa susahnya tergambar jelas serta gesturf melalui mimik serta gesturnya.
Joko Anwar untuk Romo Martin (sumber:cineverse.id) Pemeran yang lain berakting secara baik. Tutie Kirana sukses mainkan figur Suster Monik yang terlihat sedang memiliki masalah dengan kesehatan serta situasi jiwanya. Dia jadi suster yang dingin serta jaga jarak. Chicco berakting tidak jelek, walau di sini bukan performa terbaik. Oh ya di sini ada juga Joko Anwar yang bertambah diketahui untuk sutradara, untuk Romo Martin. Ini kehadirannya yang demikian di film layar-lebar untuk aktor.
Dikerjakan dengan Penuh Artistik
"Ave Maryam" mempunyai ide artistik yang mengagumkan. Pemirsa akan dibawa merasai pengalaman sinematik melalui keelokan visual serta musik latarnya.
Semenjak awal pemirsa dimanja oleh beberapa gambar indah di asrama, gereja, stasiun, sudut-sudut Semarang, bangunan tua, rimba, dan di pantai. Gereja serta asrama di sini terlihat anggun, berkualitas, serta classic.
Pewarnaan yang memiliki nuansa kuning kejinggaan diawalnya film selanjutnya warna biru saat Maudy buka jendela berasa magic. Demikian juga saat adegan menyoroti tangga yang melingkar-lingkar. Warna serta adegan ini seperti lambang yang memperlihatkan suatu hal, menguatkan emosi serta pesan yang dikatakan dalam film.
Ertanto Robby Soediskam ("Dilema", "7 Hati 7 Cinta 7 Wanita") untuk sutradara biarkan filmnya minim diskusi. Gerakan serta mimiklah yang banyak gantikan beberapa kata. Serta pembicaraan di antara Yosef serta Maryam dalam suatu adegan di restoran diganti oleh diskusi dalam film yang sedang diputar dalam tempat itu.
Nuansa toleransi nampak di sini melalui anak wanita namanya Dinda yang kenakan hijab. Dia terlihat seringkali menolong Maryam mengantarkan makanan atau barang untuk dikatakan ke pastor di gereja, mengantarkan susu.
Ada figur Dinda dan camera yang menyoroti kelompok siswa serta ibu-ibu yang kenakan hijab ini dapat memperlihatkan arti toleransi. Tetapi menurutku cukup kurang cocok sebab film ini berlatar tahun 1998 dimana penggunaan hijab pada saat itu relatif dikenai oleh golongan spesifik saja, tidak sekitar saat ini. Tetapi itu opini pribadi pengalaman dari penulis di Malang-Surabaya, bukan di Semarang.
Ceritanya kurang kuat, tetapi saya nikmati tiap detik filmnya, visualnya, kesunyiannya yang tidak banyak diskusi, musik latarnya yang serasi. Satu film yang demikian artistik.
Adegannya artistik (sumber: beritagar)
Score dari sisi narasi: 7/10
Score untuk visual serta artistik: 9/10
